Sulistiyojati | Teknik Bangunan

  • Home
  • About
  • Contact
  • Privacy Policy
Home » All Categories ilmu sipil
Tampilkan postingan dengan label ilmu sipil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu sipil. Tampilkan semua postingan
9/18/2014

Pilling work (pekerjaan pemancangan)

Pondasi tiang pancang merupakan bagian dari konstruksi yang dibuat dari kayu, beton, dan baja yang digunakan untuk mentransmisikan beban-beban permukaan ke tingkat-tingkat pemukaan yang lebih rendah dalam masa tanah. dimana pondasi tiang pancang ini digunakan unuk mendukung bangunan bila lapisan tanah kuat terletak sangat dalam. hal ini merupakan distribusi vertikal dari beban sepanjang poros tiang pancang atau pemakaian beban secara langsung terhadap lapisan yang lebih rendah melalui ujung tiang pancang.

tiang pancang ini semata-mata hanya dari segi kemudahan karena semua tiang pancang berfungsi sebagai kombinasi tahanan samping dan dukungan ujung kecuali bila tiang pancang menembus tanah yang sangat lembek sampai kedasar padat.

tiang pancang umumnya digunakan untuk beberapa maksud yaitu :

1.untuk meneruskan beban bangunan yang terletak diatas air atau tanah lunak ke tanah pendukung yang kuat

2.untuk meneruskan beban ke tanah yang relatif kuat untuk sampai kedalaman tertentu sehingga pondasi bangunan mampu memberikan dukungan yang cukup untk mendukung beban tersebut oleh gesekan sisi tiang dengan tanah disekitarnya

3.untuk mengangker bangunan yang dipengaruhi oleh gaya angkat ke atas akibat tekanan hidrostatis atau momen penggulingan

4.untuk menahan gaya-gaya horizontal dan gaya yang arahnya miring

5.untuk memadatkan tanah pasir, sehingga kapasitas dukung tanah tersebut bertambah

6.untuk mendukung pondasi bangunan yang permukaan tanahnya mudah tergerus air

4/03/2013

sifat dan karakteristik campuran beton

Sifat dan karakteristik campuran beton segar secara tidak langsung akan mempengaruhi beton yang
telah mengeras. Pasta semen tidak bersifat elastis sempurna, tetapi merupakan viscoelastic-solid.
Gaya gesek dalam, susut dan tegangan yang terjadi biasanya tergantung dari energi pemadatan dan tindakan preventif terhadap perhatiannya pada tegangan dalam beton. Hal ini tergantung dari jumlah dan distribusi air, kekentalan aliran gel (pasta semen) dan
penanganan pada saat sebelum terjadi tegangan serta kristalin yang terjadi untuk pembentukan porinya.Beberapa sifat dan karakteristik beton yang perlu diperhatikan antara lain
adalah modulus elastisitas beton, kekuatan tekan, permeabilitas dan sifat panas

a) Sifat dan Karakteristik Bahan Penyusun

Selain kekuatan pasta semen, hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah agregat. Seperti yang telah dijelaskan, proporsi campuran agregat dalam beton adalah sekitar 70-80%,
sehingga pengaruh agregat akan menjadi besar, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi tekniknya. Semakin baik mutu agregat yang digunakan, secara linear dan tidak langsung akan menyebabkan mutu beton menjadi baik, begitu juga sebaliknya. Jika melihat fungsi agregat dalam campuran
beton hanya sebagai pengisi maka diperlukan suatu sifat yang saling mengikat dan saling mengisi
(interlocking) yang baik, hal ini dapat tercapai jika bentuk permukaan dan bentuk agregatnyamemenuhi syarat yang diberikan baik itu syarat ASTM, ACI maupun SII
.
Agregat yang digunakan dalam beton yang berfungsi sebagaibahan pengisi, namun karena prosentase agregat yang besar dalam volume campuran, maka agregat memberikan kontribusi
terhadap kekuatan beton. Faktor-faktor yang mempengaruhi kek
uatan beton terhadap agregat : (1). Perbandingan agregat dan semen campuran, (2).Kekuatan agregat, (3). Bentuk dan ukuran, (4). Tekstur permukaan, (5).Gradasi, (6). Reaksi kimia, dan (7).Ketahanan terhadap panas. Detail mengenai sifat agregat ini dapat dilihat di buku Seri Bahan-Bahan Penyusun Beton.Bahan tambah biasanya hanya digunakan untuk memperbaikisifat-sifat beton, baik saat beton dalam keadaan segar ataupun saat
beton mengeras nantinya. Banyaknya dan komposisi kimia dari bahan tambah akan menyebabkan karakteristik yang berbeda terhadap kinerja beton yang diharapkan.

 b) Metode Pencampuran

1.penentuan proporsi bahan

Proporsi campuran dari bahan-bahan penyusun beton ini ditentukan melalui perancangan beton (
mix design). Hal ini dimaksudkan agar proporsi dari campuran dapat memenuhi syarat kekuatan serta dapat memenuhi aspek ekonomis. Metode perancangan ini pada dasarnya menentukan komposisi
dari bahan-bahan penyusun beton untuk kinerja tertentu yang diharapkan.Penentuan proporsi campuran dapat digunakan denganbeberapa
metode yang dikenal, antara lain : (1). Metode American Concrete Institute, (2).Portland Cement
Association (3).Road Note NO. 4, (4).British Standard, Department of Engineering, (5). Departemen
Pekerjaan Umum (SK.SNI.T-15-1990-03) dan (6). Caracoba-coba.

1/26/2013

Macam dan Jenis Pondasi

A. Pondasi Batu Kali

Adalah pondasi yang dibuat dengan bahan dasar batu kali yang disusun sedemikian rupa. sehingga dapat menahan berat bangunan yang ada di atasnya dan meneruskan ke tanah









B. Pondasi Batu Bata

Adalah pondasi yang dibuat dengan bahan dasar batu yang disusun  sedemikian rupa, sehingga dapat menahan berat bangunan yang ada di atasnya danmeneruskanya ke tanah





C. Pondasi Telapak/ Footplat

pondasi telapak berbentuk seperti telapak kaki seperti gambar disamping, pondasi setempat gunanya untuk mendukung kolom baik untuk rumah satu lantai maupun dua lantai, jadi pondasi ini diletakan tepat pada kolom bangunan, pondasi ini terbuat dari beton bertulang, dasar pondasi telapak bisa berbentuk persegipanjang/ persegi









D. Pondasi Umpak

pondasi umpak dijumpai pada rumah kayu, rumah-rumah adat, atau rumah jaman dulu










E. Pondasi Rakit

Bila dikedalaman dangkal ditemui tanah yang lunak untuk diletakan pondasi , maka solusinya bisa menggunakan pondasi rakit, selain itu pondasi ini juga berguna untuk mendukung kolom-kolom yang jaraknya terlalu berdekatan tidak mungkin untuk dipasangi telapak satu persatu , solusi dijadikan satu kekuatan. pondasi rakit sejatinya adalah plat beton bertulang



F. Pondasi Sumuran

pondasi untuk kedalaman tanah keras 2-6 meter dibawah permukaan tanah . pondasi sumuran mempunyai bis beton berdiameter 60, 100, 120, atau 150 cm. biasanya di bor /dikerjakan dengan bor jatuh sebab di dalamnya tidak dapat digali. jarak antar pondasi sumuran adalah 4-7 meter









G. Pondasi Dalam

yaitu pondasi yang digunakan pada kondisi tanah stabil lebih dari kedalaman 3 meter. pondasi dalam membutuhkan pengeboran dalam karena lapisan tanah yang baik ada di kedalaman , biasanya digunakan oleh bangunan besar, jembatan, struktur lepas pantai , dsb

Jenis pondasi dalam :


  1. Pondasi Tiang pancang (beton, besi, pipa, baja)
  2. Pondasi Borpile

1/26/2013

Menghitung Luasan Atap Bangunan

Menghitung luasan atap bangunan merupakan hal atau ilmu yang harus bisa dikuasai oleh seseorang yang bergelut didunia konstruksi banguan,karena ini merupakan hal penting yang harus kita tahu dan pelajari. Maka dari itu saya mau mencatat hal ini pada blog kesayangan ini sambil belajar dan menerapkannya.

Seperti yang kita ketahui atap merupakan salah satu unsur penting didalam bangunan yang akan kita rancang. Atap mempunyai fungsi dan peranan penting dalam melindungi kita dari panas matahari, air hujan, dan benda-benda lain yang bisa jatuh dari atas dan masuk ke dalam rumah.

CARA MUDAH MENGHITUNG LUASAN ATAP BANGUNAN

Contoh Beberapa Bentuk Atap Bangunan

  • Atap Pelana
  • Atap Perisai/Limas (seperti atap rumah adat joglo)
  • Atap Flat (contoh : bentuk miring / datar)
  • Atap Khusus (contoh : gedung MPR, rumah batak, toraja)

Beberapa Jenis Bahan Penutup Atap

  • Atap Ringan, seperti : Jerami, Ijuk, Seng, Asbes, Polycarbonat
  • Atap Sedang, seperti : Genteng Tanah, Genteng Keramik, Genteng Beton, Genteng Kayu
  • Atap Berat, seperti : Dak Beton Cor

Nb :
Makin berat bahan penutup atap, makin besar resiko tertimpa benda berat. Bila atap tersebut roboh akibat terjadi gempa bumi.

Tips Praktis Menghitung Luasan Atap Bangunan untuk Atap flat, limas, pelana dan perisai :


1. Cara menghitung luasan atap Flat datar.
Biasanya dipakai untuk dak beton cor

Rumus :
Kebutuhan luasan atap = Panjang x Lebar

Misalnya rumah dengan ukuran 6m x 10m dan Overstek atap 0.8m
Luasan atapnya adalah :

= (6 + 1.6)m x (10 + 1.6)m
= (7.6m x 11.6m)
= 88.16 m2

2. Cara menghitung luasan atap limas / perisai / pelana.
Luasan atap dihitung dalam satuan m2

Rumus :
Kebutuhan luasan atap = (Panjang x Lebar) / Cos(z)
dimana : z adalah sudut kemiringan atap


Misalnya rumah dengan ukuran 6m x 10m dan Overstek atap 0.8m
Sedang sudut kemiringan atap 30 derajat.
Luasan atapnya adalah :

= ((6 + 1.6)m x (10 + 1.6)m) / (Cos 30)
= (7.6m x 11.6m) / (Cos 30)
= 88.16 m2 / 0.866
= 101.7984 m2

Catatan :
Rumus ini masih bisa dipakai untuk menghitung pada atap yang berbentuk campuran perisai dan pelana.

1/26/2013

Menghitung Volume Besi Bertulang

Menghitung Volume Besi Beton Bertulang merupakan hal yang sudah lama saya pelajari di sekolah tetapi sampai saat ini masih belum mengerti juga karena kurangnya konsentrasi belajar didalam kelas. Jadi saya menemukan caranya di internet dan akan saya tuliskan disini supaya lebih mudah mengingatnya kembali.

Besi pada konstruksi beton bertulang berfungsi sebagai panahan tegangan tarik, penggunaan besi dalam beton bertulang karena beton hanya kuat terhadap gaya tekan.

sebelum melaksanakan pekerjaan beton bertulang terlebih dahulu kita menghitung kebutuhan volume material besi beton sehingga dapat dipersiapkan sebelumnya dengan jumlah yang tepat.

CARA MENGHITUNG VOLUME BESI BETON BERTULANG

langkah-langkah perhitungan kebutuhan besi beton pada konstruksi tersebut adalah :

menghitung kebutuhan besi tulangan pokok


volume besi D10 adalah 4 bh x 6 m = 24 m’
jika panjang besi perbuah dipasaran adalah 11 m maka kebutuhan besi adalah 24 m : 11 m = 2.18 buah
berat per m’ besi D10 adalah 0.617 kg maka total kebutuhan besi D10 adalah 0.617 kg/m x 24 = 14.808 kg

Menghitung kebutuhan besi tulangan sengkang atau cincin


panjang tulang sengkang perbuah adalah 25+15+25+15+5+5 = 90 cm = 0.9 m
jumlah tulangan sengkang pada kolom setinggi 6 m dengan jarak pemasangan 15 cm adalah 6 : 0.15 = 40 buah besi tulangan sengkang.
total panjang besi tulangan sengkang adalah 40 bh x 0.9 m = 36 m
jka panjang besi perbuah dipasaran 11 m maka kebutuhan besi tulangan sengkang 36 : 11 = 3.27 buah
berat besi per kg besi D8 pada tabel adalah 0.395 kg maka jumlah kebutuhan besi adalah 0.395 kg/m x 36 m = 14.22 kg

* TABEL BERAT BESI BISA DILIHAT Disini [download]

dari perhitungan diatas maka kebutuhan besi tulangan nya adalah

Besi D10 = 2.18 batang = 14.808 kg
Besi D8 = 3.27 batang =Â 14.22 kg
beton sebesar 0.2×0.3×6 = 0.36 m3

Sekian dulu materi yang saya simpan di blog ini semoga Cara Menghitung Volume Besi Beton Bertulang bermanfaat untuk anda.

Sumber Materi : http://www.ilmusipil.com/cara-menghitung-volume-besi-beton-bertulang



1/26/2013

Macam dan Keuntungan Batu Cetak

A. Pendahuluan



Batu cetak, suatu bahan baru dari trus dan kapur, sudah mulai dikenal oleh masyarakat sebagai bahan bangunan dan sudah pula dipakai untuk pembuatan rumah-rumah dan gedung-gedung. Jika pemakaianya dibandingkan dengan pemakaian bata merah terlihat penghemat-penghematanya dalam beberapa segi. Misalnya, per m2 luas tembok lebih sedikit jumlah batu yang dibutuhkan sehingga kwantitatip terdapat suatu penghematan.

Mengakibatkan pula penghematan dalam pemakaian adukan 70 - 80 %. Berat tembok diperingan 50 % dengan demikian pondasi tidak perlu dalam dan berat. Bentuk batu cetak yang bermacam-macam memungkinkan kita membuat variasi-variasi yang menarik. Karena bentuknya pula, tembok tidak usah diplester sudah cukup menarik.

B. Macam Batu Cetak



Batu Cetak dibedakan menjadi beberapa Type , diantaranya :

Type A

Ukuran 20-20-40 cm3 - berlobang untuk tembok /dinding dengan tebal 20 cm.

Type B

Ukuran 20-20-40 cm3 - berlobang untuk tembok/dinding tebal 20 cm sabagai batu penutup pada sudut-sudut dan pertemuan-pertemuan

Type C

Ukuran 10-20-40 cm3 - berlobang dipermukaan sebagai dinding pengisi dengan tebal 10 cm

Type D

Ukuran 10-20-40 cm3 - berlobang sebagai dinding pengisi/pemisah dengan tebal 10 cm

Type E

Ukuran 10-20-40 cm3 - tidak berlobang untuk tembok-tembok setebal 10 cm digunakan untuk diding pengisi dan/atau pemikul sebagai hubungan-hubungan sudut dan pertemuan

Type F

Ukuran 8-20-40 - tidak berlobang sebagai dinding pengisi

1/24/2013

Sambungan Kayu Memanjang

A.SAMBUNGAN BIBIR LURUS


Digunakan bila seluruh batang dipikul, umpamanya balok tembok. Pada sambungan ini kayunya sangat diperlemah karena masing-masing bagian ditakik separuh kayu. Ketetapan kedudukan dicapai dengan memaku dengan paku usuk miring dan dianker dengan baut anker Ø10 mm dalam tembok yang dipasang dengan spesi 1 bag. Semen Portland dan 2 bag. Pasir

B.SAMBUNGAN KAIT LURUS

Sambungan kait lurus ini digunakan bila diharapkan aka nada gaya tarik yang timbul. Gaya tarik diterima oleh bidang kait tegak sebesar L x 1/5 T x ð tk ( tegangan tekan yang diizinkan pada kayu/serabut) dan oleh bidang geser mendatar sebesar L x 1/4 T x ð gs ( tegangan geser yang diizinkan pada kayu)

C.SAMBUNGAN BIBIR MIRING

Sambungan bibir miring digunakan untuk menyambung gording pada jarak 2,50 m atau 3,50 m dipikul oleh kuda-kuda. Mudah diketahui bahwa sambungan tidak ditengah-tengah antara dua pemikul. Demikian juga tidak boleh dipasang di atas kuda-kuda dan tepat di atas kuda-kuda, karena gording sudah diperlemah dengan takikan pada kuda-kuda dan tepat di atas kaki kuda-kuda gording menerima momen negatif yang dapat merusak sambungan. Jadi sambungan ditempatkan pada peralihan momen positif ke momen negatif besarnya = 0. Penempatan sambungan pada jarak ± 10 cm dari kuda-kuda. Letak bibir pemikul yang harus didekat kuda-kuda, bukan bibir penutup

D.SAMBUNGAN KAIT MIRING

Sambungan ini seperti pada sambungan bibir miring diterapkan pada gording yang terletak 5 atau 10 cm dari kaki kuda-kuda yang berjarak 2,50 atau 3,50 m. Gaya tarik yang mungkin timbul, diterima oleh bidang geser saja sebesar B x a x ð gs (tegangan geser yang diizinkan pada kayu), sedang a = garis datar ujung kait di tengah

E.SAMBUNGAN KUNCI SESISI

Sambungan kunci ini digunakan pada konstruksi kuda-kuda untuk menyambung kaki kuda-kuda maupun balok tarik. Kedua ujung balok yang disambung harus saling mendesak rata. Dalam perhitungan kekokohan bantuan baut tidak diperhitungkan. Ketahanan tarik dihitung :

1.Dengan tahan tarik pada penampang bagian batang yang ditakik yaitu (T-a) x L x ð te (ð tr = tegangan tarik yang diizinkan pada kayu. Untuk kayu jati ð tr = 100 kg/cm2)

2.Daya tahan tekan dari kait sebesar a x L x ð tk, ð tk untuk kayu jati = 100 kg/cm2
3.Daya tahan geser dari kait sebesar b x L x ð gs, ð gs jati = 20 kg/cm2

Dari ketiga hasil daya tahan tersebut diatas diambil yang terkecil, itulah daya tahan batang tarik. Pengaruh baut-baut tidak dihitung, hanya untuk menjepit. Pada umumnya panjang kunci 100 cm dan panjang takikan 25 cm, dalam takikian 2 cm. Jika tepat pada kedua ujung batang dihubungkan dengan sebuah batang makelar, memerlukan lobang untuk pen, yang berguna untuk penjagaan menyimpangnya batang. Sudah barang tentu bila terdapat lubang untuk pen, disitulah bagian tarik yang terlemah.

contoh gambar :












SAMBUNGAN BIBIR LURUS


               








SAMBUNGAN KAIT LURUS














SAMBUNGAN BIBIR MIRING














SAMBUNGAN BIBIR MIRING BERKAIT

1/18/2013

PENGUJIAN STRUKTUR BETON DENGAN METODE HAMMER TEST DAN METODE UJI PEMBEBANAN (LOAD TEST)


Dalam pelaksanaan suatu konstruksi bangunan sering terdapat kegagalankegagalan
akibat kerusakan-kerusakan yang terjadi pada struktur atau bahagianbahagian
struktur pada waktu tahap pelaksanaannya maupun setelah selesai
dikerjakan. Kejadian ini antara lain disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang
sebelumnya tidak diperhitungkan misalnya kesalahan dalam perencanaan dan
pelaksanaan serta adanya pelampauan beban akibat perubahan fungsi dari
bangunan.

Dalam perencanaan suatu struktur bangunan biasanya didahului dengan
membuat beberapa asumsi-asumsi misalnya besaran gaya-gaya yang bekerja
dan mutu bahan yang akan digunakan yang pada akhimya syclus perencanaan
harus diuji kebenarannya. Pembuktian asumsi-asumsi yang dibuat mebutuhkan
pengujian-pengujian dan percobaan-percobaan yang dapat berupa Quality
Control dan Quality Assurance. Walaupun telah didahului oleh Quality Control dan
quality Assurance yang terencana sering terjadi bahwa hasil akhir mutu bahan
yang dilaksanakan masih tetap berada dibawah kwalitas yang diinginkan. Hal ini
dapat terjadi karena kesalahan dalam pelaksanaan/perencanaan, penurunan
kinerja struktur yang sudah berdiri (struktur eksisting) dan apa yang disebut
dengan pengaruh skala (scale etfecs) .

Kwalitas produk dalam skala besar, misalnya untuk beton yang akan
digunakan dalam pembuatan suatu bangunan yang diproduksi secara besar
besaran dicoba diramalkan berdasarkan kwalitas bahwa tes yang diacu dalam
skala kecil dilaboratorium (test kubus) sewaktu melaksanakan perencanaan
campuran teton (mixed design).

Penyimpangan kwalitas akhir misalnya pada struktur yang menggunakan
beton sebagai materialnya dapat menyebabkan terjadinya retakan-retakan pada
sebahagian atau keseluruhan dari struktur bangunan. Jika penyimpangan
kwalitas akhir ini dijumpai pada pelaksanaan suatu bangunan ada dua alternatif
yang dapat diambil dalam penanggulangannya.

Pertama mengganti sebahagian atau keseluruhan struktur yang tidak
memenuhi persyaratan dan yang kedua mengadakan penelitian secara
menyeluruh tentang kekuatan dan kekakuan konstruksi untuk kemudian memberi
rekomendasi terhadap penggunaan tats ruang perkuatan konstruksi tersebut.
Untuk mendapatkan informasi tentang kekhawatiran mengenai tingkat
keamanan struktur dari suatu komponen bangunan ataupun bangunan secara
keseluruhan akibat adanya faktor-faktor yang tidak diperhitungkan sebelumnya
diperlukan pengujian-pengujian.

Ada beberapa bentuk metode pengujian yang dapat digunakan
diantaranya pengujian-pengujian setempat yang bersifat tidak merusak seperti
pengujian ultrasonik dan metode hammer test serta bersifat setengah merusak ataupun
merusak secara keseluruhan komponen-komponen bangunan yang diuji berupa
pengujian pembebanan (Load Test). Dasar-dasar dan tahapan-tahapan yang
dilakukan dalam pengujian struktur eksisting yang umum ditarapkan dapat
dikemukakan secara ringkas pada uraian berikut ini.

DASAR-DASAR PENGUJIAN STRUKTUR

1. Kesalahan perencanaan/pelaksanaan.

a. Hasil pengamatan lapangan dimana terlihat adanya retak-retak atau
lendutan yang berlebihan pada bagian-bagian struktur.
b. Sifat material yang diuji selama pelaksanaan pembangunan struktur, yang
menunjukkan hasil-hasil yang tidak memenuhi syarat baik dari segi
kekuatan maupun durabilitas (sifat kekedapan terhadap air yang
disyaratkan untuk bangunan seperti kolam renang).
c. Hasil Perhitungan (dengan memakai kekuatan material yang aktual) yang
menunjukkan adanya penurunan kapasitas kekuatan struktur atau
komponen-komponen struktur

2. Penurunan kinerja struktur eksisting yang diakibatkan oleh:

a. Adanya pelapukan material pada struktur karena usianya yang sudah tua,
atau karena serangan zat-zat kimiawi tertentu yang merusak (seperti jenisjenis
senyawa asam).
b. Adanya kerusakan pada struktur atau bagian-bagian struktur karena bencana
kebakaran atau gempa atau karena struktur mengalami pembebanan
tambahan akibat adanya ledakan disekitar struktur ataupun beban lainnya
yang tidak direncanakan.
c. Rencana pembebanan tambahan pada struktur karena adanya :
- Perubahan fungsi / penggunaan struktur.
- Penambahan tingkat (pengembangan struktur).
d. Syarat untuk proses jual beli atau asuransi suatu struktur bangunan. Untuk
hal ini biasanya cukup dilakukan penyelidikan secara visual kecuali jika ada
tanda.tanda yang mencurigakan pada struktur.

TAHAPAN DALAM PENGUJIAN STRUKTUR

1. Tahapan Perencanaan

Tahapan ini mencakup pendefinisian masalah, pemilihan jenis test yang
akan dilakukan yang tentunya sesuai dengan masalah yang dihadapi, penentuan
banyaknya pengujian yang akan dilakukan, dalam pemilihan lokasi pengujian
pada struktur/komponen struktur yang tentunya diharapkan dapat mewakili
kondisi struktur yang sebenamya. Tahapan-tahapan yang umumnya lakukan
pada tahap perencanaan ini dapat diuraikan sebagai berikut ini:

a. Penyelidikan visual.
Pengamatan Visual diperlukan sebagai tahapan awal untuk mendefinisikan
permasalahan yang ada dilapangan. Dari pengamatan visual ini bisa
didapatkan imformasi mengenai tingkat layanan (service ability) dari
komponen struktur (seperti lendutan), baik tidaknya pengerjaan pada saat
pembangunan struktur/ komponen struktur (misalnya ada bagian keropos dan
"honeycombing" pada beton) material (misal pelapukan beton) maupun
tingkat struktural (seperti retak-retak akibat lenturan pada struktur beton).
Untuk tahapan ini diperlukan adanya tenaga ahli yang terlatih yang dapat
mendeteksi hal-hal yang tidak normal yang terjadi pada struktur dan dapat
membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan penyebabnya.
Sebagai contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan jenis-jenis
retak yang mungkin terjadi pada struktur beton. Sementara itu jenis
pengujian lain yang tersedia seperti pengambilan sample core dari struktur
baton yang kemudian dilanjutkan dengan pengujian tekan dapat ssss
ililloririasi yang lebih akurat mengenai kuat tekan beton. Jadi, tingkat
keandalan hasil pengujian core tersebut tergolong tinggi. Namun, cara ini
membutuhkan biaya yang sangat tinggi yang memerlukan waktu pengerjaan
yang lebih lama. Selain itu, cara ini juga menimbulkan kerusakan pada
struktur. Jadi bisa dilihat disini bahwa sebagai langkah awal dalam memilih
jenis pengujian yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada perlu
disusun terlebih dahulu tingkat prioritas dari hal-hal yang akan dijadikan
sebagai dasar pemilihan. Namun perlu diperhatikan, bahwa biasanya tingkat
akurasi hasil pengukuran merupakan kriteria yang paling penting dalam
pemilihan jenis pengujian.
Biasanya untuk mengatasi kelemahan yang ada dari pengujian-pengujian
yang disebabkan pada ilustrasi diatas, dapat dilakukan penggabungan
beberapa jenis pengujian. Sebagai contoh, karena dapat memberikan hasil
yang akurat, pengujian core dapat digunakan untuk mengkalibrasi hasil
pengujian ultrasonik dan hammer. Karena sifatnya yang hanya sebagai
mengkalibrasi, jumlah core yang diperlukan dapat diperkecil, sehingga
kerusakan yang timbul pun dapat diminimkan.
Untuk dapat membedakan jenis-jenis retak tersebut beserta penyebabnya,
perlu dilakukan penyelidikan yang mendalam mengenai pola retak yang
terjadi. Dari penyelidikan tersebut bisa didapat dugaan-dugaan awal
mengenai penyebab retak.

b. Pemilihan Jenis Pengujian.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis pengujian struktur
terdiri atas :
- Tingkat kerusakan struktur yang diizinkan terjadi.
- Waktu penge~aan
- Tingkat keandalan hasil pengujian
- Jenis permasalahan yang dihadapi.
Kemungkinan besar jenis pengujian yang tersedia tidak dapat memenuhi
semua hal diatas secara optimal, sehingga diperlukan suatu kompromi.
Sebagai ilustrasi disampaikan disini bahwa metoda-metoda pengujian beton
yang sifatnya tidak merusak (seperti ultrasonik dan hammer test yang dapat
digunakan untuk mengetahui kuat tekan beton pad a struktur) biasanya
merupakan bentuk pengujian yang sangat sederhana, cepat dan murah.
Namun, tingkat kesulitan dalam mengkalibrasi hasil pengujian untuk proses
interpretasi parameter kuat tekan tergolong tinggi. Disamping itu, jika
kalibrasi ini tidak dilakukan secara baik dan benar, tingkat keandalan hasil
pengujian dengan menggunakan alaI-alaI tersebut akan menjadi rendah.

c. Jumlah dan Lokasi Pengujian.
Penentuan jumlah mengujian yang dibutuhkan ditentukan oleh :
- Tingkat akurasi yang ditentukan (hubungannya dengan statistik).
- Tingkat kesulitan pengujian/pengambilan sample
- Biaya yang dibutuhkan
- Tingkat kerusakan.
Sebagai contoh, untuk pengujian hammer, untuk mengetahui kuat tekan
beton dengan tingkat akurasi yang tinggi, diperlukan pengujian minimal 10
titik didekitar lokasi yang diuji pada struktur atau komponen struktur beton.
Untuk jenis-jenis pengujian yang tidak merusak, karena kecepatan
pelaksanaannya, biasanya dapat dilakukan dalam jumlah yang besar yang
lokasinya dapat disebaran sehingga mencakupi semua daerah dari komponen
struktur yang akan diuji.

2. Tahapan Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan pertu diperhatikan tingkat kesulitan dalam
mencapai lokasi-lokasi yang telah ditentukan sebagai lokasi pengujian. Jika
diperlukan, sistem perancah dapat digunakan, namun sistemnya harus
direncanakan dan dipersiapkan dengan baik. Penanganan peralatan pengujian
harus dilakukan dengan baik selama pelaksanaan.
Demikian juga dengan keselamatan tenaga pelaksana harus diperhatikan (tenaga
pekerja perlu dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti "hard har. tali
pengikat dan lain-lain). Perlu juga diperhatikan pada saat pelaksanaan, pengaruh gangguan yang
mungkin timbul dari pengujian tersebut terhadap gedung-gedung/strukturstruktur
disekitas lokasi struktur yang akan diuji.

3. Tahapan Interpretasi

Tahap interpretasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yang berbeda :
a. Peninjauan mengenai kekuatan bahan.
b. Kalibrasi
c. Analisa / Perhitungan.

METODE HAMMER TEST

UMUM
Hammer test yaitu suatu alat pemeriksaan mutu beton tanpa merusak
beton. Disamping itu dengan menggunakan metode ini akan diperoleh cukup
banyak data dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya yang murah.
Metode pengujian ini dilakukan dengan memberikan beban intact
(tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang
diaktifkan dengan menggunakan energi yang besarnya tertentu. Jarak pantulan
yang timbul dari massatersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan
beton benda uji dapat memberikan indikasi kekerasan juga setelah dikalibrasi,
dapat memberikan pengujian ini adalah jenis "Hammer". Alat ini sangat berguna
untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. Karena
kesederhanaannya, pengujian dengan menggunakan alat ini sangat cepat,
sehingga dapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat.
Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton, misalnya
keberadaan partikel batu pada bagian-bagian tertentu dekat permukaan.
Oleh karena itu, diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran
disekitar setiap lokasi pengukuran, yang hasilnya kemudian dirata-ratakan
British Standards (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali
pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2.
Secara umum alat ini bisa digunakan untuk:
- Memeriksa keseragaman kwalitas beton pada struktur.
- Mendapatkan perkiraan kuat tekan beton.

2. SPESIFIKASI
Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408 pt. 4 atau
ASTM G80S-89.

a. Kelebihan dan kekurangan "Hammer test".
Kelebihan :
- Murah
- Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat
- Praktis (mudah digunakan).
- Tidak merusak
Kekurangan :
- Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan permukaan, kelembaban beton, sifatsifat
dan jenis agregat kasar, derajad karbonisasi dan umur beton. Oleh karena
itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari jenis dan kondisi
yang sama.
- Sulit mengkalibrasi hasil pengujian.
- Tingkat keandalannya rendah.
- Hanya memberikan imformasi mengenai karakteristik beton pada permukaan

b. Kalibrasi.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, banyak sekali variabel yang
berpengaruh terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan peralatan
hammer. Oleh karena itu sangat sulit untuk mendapatkan diagram kalibrasi yang
bersifat umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan beton sebagai
fungsi dari pada jumlah skala pemantulan hammer dan dapat diaplikasikan untuk
sembarang beton.
Jadi dengan kata lain diagram kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap
jenis campuran beton yang berbeda. Oleh karena itu setiap jenis beton yang
berbeda, perlu diturunkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian
tekan sample hasil coring untuk setiap jenis beton yang berbeda dari struktur
yang sedang ditinjau. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai
konstanta untuk mengkalibrasikan bacaan yang didapat dari peralatan hammer
tersebut.
Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang
dibuat oleh produsen alat uji hammer sebagainya dihindarkan, karena diagram
kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan ukuran
agregat tertentu, bentuk benda uji yang tertentu dan kondisii test yang tertentu

3. PERSIAPAN DAN TATA CARA PENGUJIAN

1. Persiapan.

a. Menyusun rencana jadwal pengujian, mempersiapkan peralatan-peralatan
serta perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan.
b. Mencari data dan informasi termasuk diantaranya data tentang letak detail
konstruksi, tata ruang dan mutu bahan konstruksi selama pelaksanaan
bangunan berlangsung.
c. Menentukan titik test.
d. Titik test untuk kolom diambil sebanyak 5 (lima) titik, masing-masing titik test
terdiri dari 8 (delapan) titik tembak, untuk balok diambil sebanyak 3 (tiga)
titik test masing-masing titik terdiri dari 5 (lima) titik tembak sedang pelat
lantai diambil sebanyak 5 (lima) titik test masing-masing terdiri dari 5 (lima)
titik tembak.

2. Tata Cara Pengujian.

a. Sentuhan ujung plunger yang terdapat pada ujung alat hammer test pada
titik-titik yang akan ditembak dengan memegang hammer sedemikian rupa
dengan arah tegak lurus atau miring bidang permukaan beton yang akan
ditest.
b. Plunger ditekan secara periahan-lahan pada titik tembak dengan tetap
menjaga kestabilan arah dari alat hammer. Pada saat ujung plunger akan
lenyap masuk kesarangnya akan terjadi tembakan oleh plunger terhadap
beton, dan tekan tombol yang terdapat dekat pangkal hammer.
c. Lakukan pengetesan terhadap masing-masing titik tembak yang telah
ditetapkan semula dengan cara yang sama.
d. Tarik garis vertikal dari nilai pantul yang dibaca pada grafik 1 yaitu hubungan
antara nilai pantul dengan kekuatan tekan beton yang terdapat pada alat
hammer sehingga memotong kurva yang sesuai dengan sudut tembak
hammer.
e. Besar kekuatan tekan beton yang ditest dapat dibaca pada sumbu vertikal
yaitu hasil perpotongan garis horizontal dengan sumbu vertikal.
Oleh karena itu mutu beton yang dinyatakan dengan kekuatan karakteristik α bk
didasarkan atas kekuatan tekan beton yang diperoleh pada saat pengetesan
dilaksanakan perlu dikonversi menjadi kekuatan tekan beton umur 28 hari.

METODE UJI PEMBEBANAN (LOAD TEST)

1. UMUM.
Uji pembebanan (load test) adalah merupakan suatu metode pengujian
yang bersifat setengah merusak atau merusak secara keseluruhan komponenkomponen
bangunan yang diuji. Pengujian yang dimaksud dapat dilakukan
dengan beberapa metode salah satu diantaranya adalah metode uji beban (Load
Test).
Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat
keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi persyaratan
peraturan bangunan yang ada, yang tujuannya untuk menjamin keselamatan
umum. Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian
struktur yang dicurigai tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan
berdasarkan data-data hasil pengujian material dan hasil pengamatan.

2. PEMAKAIAN UJI PEMBEBANAN.
Uji pembebanan biasanya perlu dilakukan untuk kondisi-kondisi seperti
berikut ini:
a. Perhitungan analistis tidak memungkinkan untuk dilakukan karena
keterbatasan imformasi mengenai detail dan geometri struktur.
b. Kinerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kwalitas
bahan, akibat serangan zat kimia, ataupun karena adanya kerusakan flsik
yang dialami bagian-bagian struktur,akibat kebakaran, gempa, pembebanan
yang berlebihan dan lain-lain.
c. Tingkat keamanan struktur yang rendah akibat jeleknya kwalitas pelaksanaan
ataupun akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang sebelumnya tidak
terdeteksi.
d. Struktur direncanakan dengan metode-metode yang non-stardard, sehingga
menimbulkan kekhawatiran mengenai tingkat keamanan struktur tersebut.
e. Perubahan fungsi struktur, sehingga menimbulkan pembebanan tambahan
yang belum diperhitungkan dalam perencanaan.
f. Diperlukannya pembuktian mengenai kinenja suatu struktur yang baru saja di
renovasi.

3. JENIS-JENIS LOAD TEST

Uji pembebanan dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu :
a. Pengujian ditempat (in.situ) yang biasanya bersifat non-destructive.
b. Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur utamanya.
Pengujian biasanya dilakukan dilaboratorium dan sifat merusak.
Pemilihan jenis uji pembebanan ini tergantung pad a situasi dan kondisi
tetapi biasanya cara kedua dipilih jika cara pertama tidak peraktis (tidak
mungkin) untuk dilaksanakan. Selain itu pemilihan jenis pengujian bergantung
pada tujuan diadakannya load test. Kalau tujuannya hanya ingin mengetahui
tingkat layanan struktur, maka pilihan pertama tentunya yang paling baik. Tetapi
ingin mengetahu kekuatan batas dari suatu bagian struktur, yang nantinya akan
digunakan sebagai kalibrasi untuk bagian-bagian struktur lainnya yang
mempunyai kondisi yang sama, maka cara kedualah yang pilih.

3. 1. Pengujian Pembebanan di tempat (In-Situ Load test).

Tujuan utama dari pembebanan ini adalah untuk memperhatikan apakah
prilaku suatu struktur pada saat diberi beban kerja (working load) memenuhi
persyaratan banguan yang ada yang pada dasarnya dibuat agar keamanan
masyarakat umum terjamin. Prilaku struktur tersebut dinilai berdasarkan
pengukuran lendutan yang terjadi. Selain itu penampakan struktur pada saat
retak-retak yang terjadi selama pengujian masih dalam batas-batas yang wajar.
Beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam pelaksanaan loading test akan
diberikan dalam uraian berikut ini.
a. Persiapan dan Tata Cara Pengujian.
ACI-318’89 mengisyaratkan bahwa uji pembebanan hanya bisa dilakukan jika
struktur beton berumur lebih dari 56 hari. Pemilihan bagian struktur yang
akan diuji dilakukan dengan mempertimbangkan :
a. Permasalahan yang ada
b. Tingkat keutamaan bagian struktur yang akan diuji.
c. Kemudahan pelaksanaan.
Bagian struktur yang akan memikul bagian struktur yang akan diuji dan
beban ujinya juga harus dipertimbangkan/dilihat apakah kondisinya baik dan
kuat Selain itu "scaffolding" juga harus dipersiapkan untuk mengantisipasi
beban-beban yang timbul jika terjadi keruntuhan bagian struktur yang diuji.
Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa sehingga bagian
struktur yang dimaksud benar-benar mendapatkan beban yang sesuai dengan
yang direncanakan. Hal ini kadang kala sulit direncanakan, terutama untuk
pengujian struktur lantai. Hal ini dikarenakan adanya keterkaitan antara
bagian struktur yang diuji dengan bagian struktur lain yang ada disekitarnya.
Sehingga Timbul apa yang disebut pengaruh pembagian pembebanan ("Load
sharing effect"). Pengaruh ini juga bisa ditimbulkan oleh elemen-elemen nonstruktual
yang menempel pada lagian struktur yang akan diuji, sebagai
contoh "ceiling board", Elemen non struktural ini dapat berfungsi
mendistribusikan beban pada komponen-komponen struktur dibawahnya yang
sebenarnya tidak saling berhubungan. Untuk menghindari terjadinya distribusi
beban yang akan diinginkan maka bagian struktur yang akan diuji sebaiknya
diisolasikan dari bagian struktur yang ada disekitarnya.
© 2003 Digitized by USU digital library 8
ACI-318- ’ 89 mengisyaratkan bahwa besamya beban yang harus
diaplikasikan selama .load test" (termasuk beban mati yang sudah ada pada
struktur) adalah :
Beban total = 0,85 (1,4D + 1,7 L)
Dimana : D = beban mati
L = benda hidup (termasuk faktor reduksinya)
Beban mati harus diaplikasikan 48 jam sebelum "load test" dimulai. Sebelum
beban diterapkan, terlebih dahulu dilakukan pembacaan lendutan awal yang
nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pembacaan lendutan setelah
penerapan beban. Pembebanan harus dilakukan secara bertahap dan
perlahan-lahan, sehingga tidak menimbulkan beban kejutan pede struktur.
Setelah beban-beban yang direncanakan berada pada struktur yang diuji
selama 24 jam, pembacaan lendutan bisa dilakukan. Setelah pembacaan
beban bisa dilepaskan dari struktur. Dua puluh empat jam setelah itu
pembacaan lendutan dilakukan kembali.
Kriteria umum yang harus dipenuhi dari hasil load test ini adalah struktur
tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda keruntuhan seperti terbentuknya
retak-retak yang berlebihan atau menjadi lendutan yang melebihi persyaratan
keamanan yang telah ditetapkan dalam peraturan-peraturan bangunan.
Sebagai contoh, ACI mensyaratkan bahwa untuk balok/lantai diatas tumpuan:
L2
δ maks <
20000 h
dimana, δ maks = lendutan maksimum yang terjadi, inch
L = Panjang bentang, inch
h = Tinggi penampang
Persyaratan lendutan diatas bisa dilanggar tapi dengan syarat lendutan yang
terjadi setelah beban-beban bekerja yang dilepaskan haruslah lebih kecil dari
25 % δ maks.
Jika struktur gagal dalam "load test", maka :
Struktur tidak boleh digunakan sama sekali jika sudah terjadi tanda-tanda
kerusakan struktural yang fatal).
Struktur masih bisa digunakan, tapi dengan pembatasan beban-beban yang
bekerja sehingga sesuai dengan kekuatan struktur yang sebenarnya. Jadi
disini fungsi struktur dikurangi
b. Teknik Pembebanan.
Pembebanan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga laju distribusi
pembebanan dapat dikontrol (gambar 1). Beban yang bisa digunakan
diantaranya air, bata/batako, kantong semen/pasir, pemberat baja dan lainlain.
Pemilihan beban yang akan digunakan tergantung dengan distribusi
pembebanan yang diinginkan, besarnya total beban yang dibutuhkan, dan
kemudahan pemindahannya.
c. Pengukuran.
Parameter yang biasanya diukur dalam "load test" adalah lendutan, lebar
retak. dan regangan. Gambar 2 memperlihatkan aplikasi beberapa jenis alat
ukur dalam "load test". Lebar retak yang terjadi biasanya diukur dengan
mikroskop tangan yang dilengkapi dengan lampu dan mempunyai lensa yang
diberi garis-garis berskala yang ketebalannya berbeda-beda (gambar 3). Cara
pengukuran adalah dengan membandingkan lebar retak yang terjadi, lewat
peneropongan dengan mikroskop dengan lebar garis-garis berskala tersebut.
Pola retak-retak yang terjadi biasanya ditandai dengan menggambarkan
garis-garis yang mengikuti pola retak yang ada dengan menggunakan spidol
berwarna (diujung garis-garis tersebut dituliskan imformasi mengenai tingkat
pembebanan dan lebar retak yang sudah terjadi).

3. 2. Uji Merusak

Uji merusak biasanya ditempuh jika pengujian ditempat (in-situ) tidak
mungkin dilakukan atau jika tujuan utama pengujian adalah mengetahui
kapasitas suatu bagian struktur yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan
dalam menilai bagian-bagian struktur lainnya yang identik dengan bagian
yang diuji. Pengujian jenis ini biasanya memakan waktu dan biaya yang
besar, terutama untuk pemindahan dan penggantian bagian struktur yang
akan diuji dilaboratorium. Namun, walaupun begitu hasil yang bisa diharapkan
dari pengujian jenis ini tergolong sangat akurat dan informatif. Mengenai
teknik pelaksanaan dalam pengukuran untuk pengujian jenis ini sama dengan
teknik-teknik yang sudah diuraikan sebelumnya.

Langganan: Postingan (Atom)

Banyak Dibaca

  • Pilling work (pekerjaan pemancangan)
  • Sistem Instalasi Plumbing
  • Bahan untuk membuat adukan konstruksi bangunan
  • Besaran pokok dan besaran turunan
  • sifat dan karakteristik campuran beton

Kategori

  • ilmu sipil
  • Ilmu Statika
  • mechanical and electrikal
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Sulistiyojati | Teknik Bangunan. All rights reserved.
Powered by Blogger